Jumat, 16 Juni 2017

Tengah Malam Mendaki Gunung SINDORO


Selesai makan, selesai Packing dan Selesai isi data-data di Basecamp, kemudian kita ngerumpi sebentar apakah akan naik ojeg sampai ke pos 1 atau jalan kaki sampai pos 1.
Just info di Gunung Sindoro : Untuk menuju ke pos 1 masih bisa dilalui dengan sepeda motor karena jalannya masih menggunakan batako dengan pemandangan kanan-kiri ladang kol milik warga sampai di pos 1 barulah masuk ke dalam hutan. Cuma jaraknya lumayan jauh, bahkan lebih jauh jaraknya dari pos 1 ke pos 2 atau dari pos 2 ke pos 3.

Setelah mempertimbangkan dengan jarak dan waktu yang sudah menjelang pagi, kita putuskan untuk menggunakan ojeg sampai ke pos 1 agar mempersingkat waktu supaya sampai di pos 3 sebelum matahari terbit. Karena kalau pengin melihat sunrise di Gunung Sindoro paling gak minimal sampai di pos 3.  

Ini bener-bener gila dan nekat sih sebenernya, karena di jam 1:30 itu kebanyakan para pendaki sedang istirahat atau kalau di gunung yang lebih tinggi mungkin sedang mempersiapkan untuk summit, nah kita jam segini malah baru naik dari basecamp. Memang serem sih, cuma kita sudah nambah 2 anggota yang sudah hafal jalurnya pula yang bikin kita makin berani. Semoga lancar sampai ke atas.

Satu-persatu dari kami mulai jalan dengan tukang ojegnya masing-masing meninggalkan basecamp, termasuk saya yang terakhir.  

Pas mau naik ojeg, saya pikir ini motor gak bakalan sanggup naik karena yang boncengin berbadan gendut, ditambah lagi rasanya roda bannya juga agak kempes. Eh yang terjadi malah motor yang saya tunggangi ini satu-persatu nyalip motor yang didepan dan akhirnya saya yang duluan sampai di pos 1. 

"Gimana rasanya mas naik ojeg di gunung?" Tanya tukang ojegnya.

Ini bener-bener pengalaman baru buat saya, seru, dan serem juga sih barangkali jatuh. Kalau di film-film itu kayak film Lion King.

"Jauh amat bedanya, itu kan film kartun binatang mas" protes si tukang ojeg.

"Si mas tukang ojeg ini tau film juga ternyata. Hihi" .... "Pokoknya seru mas"

Gak lama kemudian kita kumpul semua bertujuh di pos 1. Dengan sedikit bacaan doa, kita awali sebelum treking ke atas.

Basecamp - pos 1 (gak nyampe 10 menit)

Selesai doa, kita mulai melangkahkan kaki kita dipekatnya malam dalam hutan namun bertabur bintang yang menandakan cuaca sangat cerah.

Perlahan-lahan kita jalan sambil ngobrol ngalor-ngidul sama Mas Galih dan Mas Osa yang anaknya sangat mudah bergaul. Mereka bercerita kalau Gunung Sindoro itu gak seekstrim yang orang-orang pikir. Kebanyakan orang bilang Sumbing dan Sindoro memiliki jalur yang sulit karena banyak batu-batuan, tapi Sindoro itu lebih mudah. Katanya... ya wajar karena mereka sering wara-wiri naik gunung ini, nah saya pengalaman mendaki aja baru di Gunung Prau. Itu aja saya mendaki dengan penuh perjuangan.

1 jam sudah kita meninggalkan pos 1.

Entah karena malam hari atau karena efek sepedaan sebelum mendaki kemarin, bikin kaki saya sanggup nanjak. Bahkan sampai di pos 2 saya masih cukup sanggup. Kecuali anak-anak cewek yang sudah beberapa kali minta berhenti. Ya.. maklum lah, apalagi Dwi yang habis dari Bandung, kalau Beti sih namanya doang si petualang sejati tapi gampang capek, kalau Mala ini cewek strong, bahkan lebih kuat dari saya, sedangkan Turis tidak diragukan lagi karena dia cukup pengalaman mendaki gunung.

Pos 1 - Pos 2 (1,5 jam)

~~sk~~



10 menit istirahat dirasa cukup kata Mas Galih, karena tujuan kita liat sunrise di pos 3 yang berjarak lebih jauh ketimbang pos 1 ke pos 2.

Sekarang giliran Mas Osa yang memimpin di depan, kalau tadi dari pos 1 Mas Galih yang didepan.

Untuk suhu udara disini saat ini cukup hangat, saya juga sampe heran digunung kok malah hangat. Kata Mas Osa ini karena habis diguyur hujan cukup deras tadi pas saya dan lainnya masih didalam bus, makanya si tanah jadi hangat plus gak ada kabut alias cerah benderang.

5 menit kemudian selepas pos 2, kaki saya mulai terasa kram sedikit, tapi masih saya paksakan untuk tetap jalan. Karena sedikit gengsi sama anak-anak cewek, masa saya yang cowok minta istirahat. Tapi nyatanya kaki saya mulai lambat buat melangkah.

"Bet kalau capek lagi mending istirahat aja dulu" Lagi nyoba bujuk Beti buat berhenti biar semuanya berhenti, padahal sih saya yang ingin istirahat karena ini kaki mulai terasa berat melangkah, cuma kalau saya yang minta berhenti malu lah sama anak-anak cewek ini.

"Masih kuat" jawab Beti.

Pijakan kaki saya mulai semrawut gak jelas karena berat melangkah dan medannya juga bebatuan serta banyak pohon tumbang yang menghalang.

"Gak haus Wi? Nanti dehidrasi loh..." saya mulai merayu Dwi supaya ada alasan buat berhenti.

"Nanti aja minumnya, keburu telat"

Dalam hati "Ini cewek-cewek kenapa mendadak jadi kuat sih, apalagi Mala sudah jauh didepan"

Karena gak ada yang mau berhenti, akhirnya saya coba berhenti sambil mangkring di batu besar karena cukup melelahkan.

"Capek mas?" Sapa Mas Galih dari belakang.

"Oh enggak mas ini lagi memandang Gunung Sumbing keliatan banget" padahal capeknya gak ketulungan.

Denger saya bilang kalau Sumbing keliatan banget dibelakang kita, anak-anak mendadak berhenti dan sama-sama memandang megahnya gunung sumbing di malam hari yang cerah ini.


"Alkhamdulillah akhirnya pada berhenti juga" kata saya dalam hati.

"Ayo jalan lagi. Mau liat sunrise gak nih... setengah jam lagi kita sampai kok di pos 3" teriak Mas Osa dari atas.

Baru aja meneguk air dikit udah jalan lagi. Huh... saya mikir coba aja ada tukang ojeg sampai ke puncak, bayar mahal juga gak papa.

Saya liat Turis sama Mala di depan/di atas, keliatannya enak banget jalan kakinya, kayak gak ada beban. Kalau saya malah kaki terasa makin berat dan carrier juga terasa makin berat. Kalau dihitung-hitung berat beban yang dibawa kita-kita ini mungkin paling berat punya saya, karena saya juga harus bawa puluhan kilo lemak saya keatas Gunung.

"Masih lama mas pos 3?" Teriak Beti yang mulai meninggalkan saya dibelakang.

"Setengah jam lagi" Balas Mas Osa yang jauh di atas sana.

Entah setengah jamnya Mas Osa itu berapa menit karena dari tadi bilangnya setengah jam mulu.

Saat ini posisinya sudah tidak berdekatan lagi. Mas Osa, Turis, dan Mala sudah jauh diatas sana, dibawahnya ada Dwi dan Beti yang sudah tidak terlihat lagi oleh saya, kemudian dibawahnya lagi ada Mas Galih yang mulai meninggalkan saya. Sumpah ini kaki sudah tidak bisa diajak kompromi, kaki saya dua-duanya kram. Gilakk sakit banget. Terpaksa saya berhenti. Untung Mas Galih melihat saya berhenti dan dia ikutan berhenti.

"Kenapa mas?" Tanya Mas Galih.

"Kram"

"Lurusin mas kakinya" lanjut Mas Galih sambil turun lagi buat nemenin saya.




Disaat sedang istirahat meluruskan kaki, saya baru sadar kalau saya sudah keluar dari hutan. Dan itu artinya pos 3 sudah hampir sampai. Terlihat juga banyak tenda berdiri diatas saya.

adventure everyday
"Ayo jalan lagi mas" ajak saya ke Mas Galih. Sementara Turis dan yang lainnya entah dimana keberadaannya, suaranya juga mulai tersaingi dengan suara-suara para pendaki lainnya yang ada diatas.

5 menit kemudian kaki saya kembali kram. Sialan. Tapi kali ini saya banyak temen pendaki lain dari berbagai kota.

"Kalau kram jangan dipaksakan mas" kata salah seorang pendaki asal Jakarta.

"Ini sudah sampai pos 3 belum?" Tanya Mas galih ke pendaki dari Jakarta itu.

"Kayanya udah mas, karena papan petunjuknya gak keliatan"

Lagi duduk selonjoran, tiba-tiba ada yang ngasih kopi. Anjrit baik banget. Emang bener, di gunung siapa saja bisa jadi sodara.

"Terimakasih mas"

Selesai minum kopi dan kaki juga sudah mulai kuat berjalan, kita berdua kembali jalan, tapi Mas Galih melarang saya buat membawa Carrier. Katanya biar dia aja yang bawa.

"Jangan mas! Saya gak enak" tolak saya.

"Gak papa mas biar gak kram lagi"

Ya sudah, karena dia memaksa jadi saya kasih. Padahal badannya kecil, tapi kuat juga Mas Galih bawa carrier dua ke atas. Gilakk. Tapi begitu 3 menit kemudian saya liat ke belakang Mas Galihnya gak ada.

"Mas Galih... Dimanakah engkau?" teriak saya.

"Woi" teriak Mas Galih. "Jalan aja terus, kaki saya kram"

Waduh, kok jadi dia yang kakinya kram. Apa gara-gara carrier saya yang bikin kram. Kemudian saya juga ikutan berhenti nungguin Mas Galih. Ada perasaan gak enak dalam diri saya, makanya nanti saya putuskan untuk kembali bawa cerrier. Lalu saya liat disekitar, langit mulai mengeluarkan secercah cahaya, menandakan matahari sebentar lagi akan keluar.

Saya sudah tidak bernafsu lagi buat mengejar sunrise, dengan keadaan kaki yang kayak gini saya cukup puas melihat pemandangan yang ada. Lagi pula dimana pun tempatnya, asal sudah lewatin pos 3, pemandangannya sudah keren banget, karena ada di padang savana.






"Riskiiiiii" tiba-tiba ada yang teriak memanggil, dan suaranya mirip Turis.

"Woi!" Balas saya.  

Mas Galih juga sudah menghampiri saya, dan seperti yang tadi janjikan, maka cerrier saya bawa kembali lagi.

"OSA!!! Udah nemu tanah datar belum?" Gantian Mas Galih yang teriak.

"Udahhhh" yang jawab malah anak-anak cewek bebarengan.

"Kamu lagi dimana?" Teriak Mala.

"Lagi di Mall" pake tanya segala, lagi digunung lah.

Saya dan Mas Galih langsung jalan lagi dan gak sampai 5 menit kita semua sudah berkumpul.

Lalu kita para cowok-cowok sibuk bangun tenda. Dan para cewek sibuk foto-foto dengan background sunrise yang tertutup awan. Kasian.



Kita memang kurang beruntung untuk dapat pemandangan sunrise yang keren. Tapi gagahnya Gunung Sumbing cukup membayar perjuangan kita mendaki di malam hari.  

Bersambung dulu ya.......
Pasutri (Dwi-Turis) baru nikah Desember kemarin.
Beti si Petualang Sejati
Mala
Abaikan lemaknya...

Selasa, 06 Juni 2017

Drama Menjelang Pendakian Sindoro Part 2


Di halaman sebelumnya, drama yang kami alami adalah tentang gugurnya anggota kami satu-persatu menjelang pendakian, dan satunya lagi kesalahpahaman antara saya, Turis, dan Dwi. Karena saya mengira Turis gak ada keniatan untuk mendaki, dengan tiba-tiba ngasih kabar kalau dia tidak ikut mendaki tanpa alasan. Dan itu ternyata Turis dan Dwi juga salah sangka tentang hamil mudanya Dwi yang ternyata hanya telat datang bulan. Tapi semuanya sudah kita lewati. Sekarang drama yang akan kita lalui adalah di sepanjang perjalanan kita menuju Purwokerto dan dilanjut ke Wonosobo.

~~sk~~


Sesuai perjanjian, kita berlima : Saya, Mala, Turis, Dwi dan Beti kumpul di RS Kardinah jam 1 siang untuk menunggu bus ke arah Purwokerto. Saya sendiri sedikit khawatir dengan kondisinya Turis dan Dwi, mengingat mereka habis naik motor jauh dari Bandung pula. Tapi mereka meyakinkan saya dengan kalimat pengin ciptain rekor sendiri dengan perjalanan terpanjangnya : Bandung-Tegal-Purwokerto-Wonosobo-Naik Sindoro-Turun Sindoro-Purwokerto-Tegal-Bandung lagi.

Hahaha... saya cukup lega dengan jawaban mereka.

30 menit kemudian bus Indah Putri arah Purwokerto berhenti didepan kami. Tanpa mikir panjang langsung saja kita naik.

"Kira-kira sampai Wonosobo jam berapa ki?" Tanya Turis didalam bus.

Berdasarkan pengalaman saya waktu ke Purwokerto pake bus setahun yang lalu, sekitar 3 jam saya sampai di Purwokerto (khusunya di Terminalnya). Kemudian dilanjut ke Wonosobo yang kata temen cuma 4jam saja dari terminal Purwokerto, jadi dihitung-hitung kita sampai di Basecamp kledung kurang lebih 7 jam dan sampai disana sekitar pukul 9 malem.

"Tapi entar mendakinya jam 11 aja ki, makan-makan atau apa dulu" lanjut Turis.

"Oke"




Setelah bus berjalan lancar sampai ke kec. Margasari kab. Tegal. Tiba-tiba kita dihadapkan jalanan yang macet.

"Oh mungkin karena habis ada kereta lewat atau mungkin karena didepan ada pertigaan jadi banyak mobil yang lewat dari arah Brebes" pikir saya kayak gitu. Tapi ternyata ada proyek perbaikan jalan dan proyek besar "Mega flyover" di 4 titik yang bikin macet cukup panjang sampai ke Bumiayu. Saya menelan ludah karena takut digebukin anak-anak karena meleset perkiraan saya soal waktu perjalanan.

"Tenang paling perkiraan waktu sampai di Purwokerto meleset sejam doang" saya mencoba menenangkan anak-anak. Tapi yang terjadi malah kita baru sampai di Terminal Purwokerto jam setengah 7 malem, gilakkk. Harusnya jam 5 sore sudah sampai.  

Kita istirahat sebentar di mushola yang ada di Terminal Purwokerto sambil shalat maghrib dan shalat isya.

Dicela-cela waktu istirahat saya coba jalan-jalan di Terminal Purwokerto buat cari info bus ke arah Wonosobo, dan Alkhamdulilah langsung dapat, tapi mulai jalannya jam 19:15. Itu artinya kita selesai shalat isya langsung naik bus.

Ketika mushola di Terminal sudah terdengar suara adzan, kita langsung bergegas untuk shalat isya dan kita kelar semua jam 19:20.

"Ayo buruan" seru Turis.

"Gak makan dulu ris? Laper" Pertanyaa dari anak yang paling gendut dalam rombongan, tidak lain tidak bukan adalah saya.

"Katanya bus berangkat jam 19:15? Ini udah lewat" lanjut Turis.

"Ah paling ngaret ris" tebak saya. "Yaudah kita makan deket-deket bus yang akan kita naiki"

Mereka pun akhirnya setuju sama ide saya. Tapi pas sampai di tempat bus yang tadi saya datangi tiba-tiba saya melongo dan kaget bukan main...

karena bus yang akan kita tumpangi sudah jalan. Kampret!!! Sapa suruh sih berangkatnya tepat waktu, biasanya juga ngaret.

Memang sih disitu ada bus arah Wonosobo lagi, tapi jadwalnya jam 22:30. Gilakk...

Kita semua kalang-kabut.

Tiba-tiba ada calo nyamperin buat nawar tumpangan bus berangkat jam 20:00 ke basecamp kledung dengan biaya 80ribu/anak. Pala lu peyang, ke Wonosobo mahal amat 80ribu sudah kayak mau ke Jakarta. Terus ada lagi calo dari bus lain yang nawarin dengan harga 50ribu/anak. Itu juga masih kemahalan.

Disaat menegangkan seperti ini, Allah menunjukkan kebaikannya, bahwa barangsiapa yang mau mengutamakan shalat wajibnya diatas kepentingan lainnya, maka Allah akan bantu kesusahannya/permasalahannya. Dan terbukti, ada orang baik yang ngasih usul supaya kita nunggu bus di pintu keluar terminal saja biar gak ada calo. Oke kita langsung jalan ke pintu keluar terminal. Dan subhanallah... bus yang tadi kita pikir ninggalin kita, ternyata sedang nungguin kita di dekat pintu keluar terminal. Alkhamdulilah akhirnya dapat bus juga yang harganya cuma 35ribu untuk sampai di basecamp pendakian sindoro.  

Saya liat jam ternyata sudah jam 19:40. Dan bus kemudian jalan membawa kita berlima ke Wonosobo.

"Tenang kita sampai di Wonosobo jam 11 malem" saya mencoba kembali membakar semangat mereka untuk mendaki, tapi kelihatannya mereka sedikit gak percaya karena perkiraan saya selalu meleset. Dan bener saja perkiraan saya kembali meleset. Karena kita sampai di Basecamp kledung jam 00:30.

"Kenapa baru sampai mas?" Sapa Mas Indra selaku yang punya alat-alat camping yang akan kita sewa.  

Kenapa bisa lama sampainya itu karena sopirnya sudah agak tua, ditambah lagi malem-malem berkendaraan didataran tinggi, dinginnya memang kurang ajar banget, apalagi hujan segala. Pantes aja jalannya pelan banget, bahkan yang bikin saya ketawa kita berhenti 2x cuma karena si sopir mau ngopi buat angetin badan. Hihi saya memakluminya sih karena saya juga yang kulitnya berlapis-lapis lemak masih kedinginan.

Belum mendaki, badan sudah pegel-pegel.

Kemudian kita makan mie bareng-bareng, sambil ngobrol sama Mas Indra dan dua temennya yang nantinya mau mengawal kita naik ke Sindoro. Karena saya gak mau ambil resiko mendaki tengah malem dengan jumlah cewek lebih banyak, apalagi kita juga gak tau jalurnya, makanya saya minta cariin guide buat kita. Dan mereka adalah Mas Osa dan Mas Galih.


Selesai makan, kita langsung mempersiapkan perbekalan, dan dijam 01:30 dini hari kita mendaki Gunung Sindoro.
Mala, beti, Dwi, Turis, dan yang paling gendut itu si Justin bibir.

Foto karya Beti si petualang sejati.

Minggu, 04 Juni 2017

Drama Menjelang Pendakian Sindoro Part 1

Sebelum perjalanan ke Dieng




Rencana awal, kita akan mendaki gunung kembali beranggotakan 8 orang dengan orang yang sama persis saat mendaki Gunung Prau. Full satu keluarga sering keluyuran ditambah Beti si petualang pencari air terjun dan Trio. Tapi dua minggu sebelum mendaki, Trio dan Rudi memastikan tidak bisa ikut mendaki lantaran di kampusnya akan ada KKL di hari yang sama dengan waktu pendakian, sedangkan Rudi tidak bisa ambil cuti karena masih baru bekerja di Cikarang. Namun kita putuskan untuk tetap mendaki meski kehilangan 2 orang.

Drama ini masih berlanjut, puncaknya seminggu sebelum berangkat ke basecamp kledung, Bapak saya dirawat di rumah sakit. Ini membuat pikiran saya acak-kadut yang semula sangat exited karena akan kembali lagi menyambangi ketinggian diatas ribuan mdpl. Tapi saya tidak memberitahukan dulu ke yang lainnya karena saya masih optimis kalau bapak saya bakal cepat sembuh dan cepat pulang, kecuali Mala karena dia pacar saya maka saya ceritakan ke dia. Mala pun menyuruh saya untuk membatalkan rencana pendakian kali ini yang sudah sekian lama tertunda-tunda dan apakah akan tertunda lagi. Demi merawat bapak. Katanya...

"Lihat saja nanti" jawab saya tentang usulannya Mala.

Tanpa alasan, tiba-tiba Turis bilang lewat Wa kalau dia dan istrinya (Dwi) batal untuk ikut mendaki.

Saya agak kecewa, karena baru kemarin banget Dwi bilang kalau Turis sudah ambil cuti untuk ikut pendakian kali ini, dan hari itu juga saya langsung booking tenda dan alat-alat yang lain sama Mas Indra (anak wonosobo). Ehh kok malah gak jadi ikut.

2 jam kemudian setelah Turis ngasih kabar bahwa dia tidak jadi ikut, barulah dia memberitahu alasannya kenapa gak bisa ikut itu karena Dwi hamil.

Dalam hati saya bilang mungkin bener kata Mala kalau pendakian ini harus dibatalkan, meski padahal saya masih berharap bapak sembuh sebelum hari H pemberangkatan, tapi sekarang rasanya jadi agak males, karena saya cowok sendirian yang harus nemenin Mala, Beti, dan Wiwi naik Sindoro. Kalau pun mengajak anak cowok lain belum tentu ada yang mau karena cukup mendadak, ditambah lagi belum tentu juga klop dengan gaya kita jalan, dengan gaya kita bercanda, dan dengan gaya noraknya kita saat foto-foto. Karena kita satu keluarga sering keluyuran adalah satu kesatuan. Cie gitu...

Kemudian saat berunding dengan Mala dan Wiwi yang akhirnya sependapat kalau pendakiannya kita batalkan, tapi si petualang sejati alias Beti masih terus memaksa agar pendakian ini harus tetap jadi meskipun tanpa Turis dan Dwi. Saya sih cuma diem saja nanggepin kemauannya Beti, karena gak mungkin juga orang gendut kayak saya suruh ngawal tiga cewek ke Gunung Sindoro.

~~sk~~

Setelah 2 hari berlalu dengan tenang tanpa ada pembahasan masalah mendaki, hanya Beti saja yang terus tanya soal mendaki tapi tidak saya balas. Kasian juga sih... Lalu secara tiba-tiba lagi Turis tanya lewat Wa "Apakah mendakinya jadi?"  Saya bingung mau jawab.

Kemudian Turis bilang lagi kalau dia dan Dwi jadi ikut mendaki.  

Hah! Saya bengong.

Dalam hati saya "Ini anak gak ada pendiriannya banget" 
"Terus entar kandungannya Dwi gimana?" lanjut saya.

Lalu Dwi yang menjelaskannya sendiri kalau dia gak hamil. Dia hanya telat datang bulan. Mungkin karena mereka berdua sama-sama pengin cepet punya anak, jadi mereka langsung menjudge kalau Dwi sedang hamil muda yang padahal cuma telat datang bulan.  

Angin segar kembali berhembus di kening saya, karena Bapak saya besok diperbolehkan sama dokter untuk pulang. Itu artinya saya dan keenam anak lainnya jadi mendaki.
Pemandangan G. Sumbing, G. SIndoro, G. Merbabu, G. Merapi dan gunung-gunung lainnya dari puncak G. Prau

Setelah berganti hari lagi, saya pikir sampai hari H semuanya lancar tanpa ada hambatan, tapi ternyata di malam terakhir menjelang berangkat besok Wiwi mengasih kabar bahwa dia tidak dapat ijin dari orangtuanya seperti yang sudah-sudah. Mungkin dulu saat ke Dieng masih dapat ijin tapi sekarang katanya Wiwi gak lagi.

"Maaf yah..." kata Wiwi lewat Bbm.

"Gak usah minta maaf lah. Justru kita yang minta maaf karena gak bisa bantu meyakinkan orangtuamu wi"

Fix... anggota kurang lagi. Namun rencana mendaki tetap jalan karena yang mengundurkan diri anak cewek. Kecuali saya atau Turis yang gak jadi ikut mungkin rencana mendakinya ditunda atau dibatalkan.

~~sk~~
Keesokan harinya, pukul 3 pagi. Dwi telfon kalau dia sama Turis masih di Cirebon karena gear sepeda motornya Turis patah, dan bengkel buka paling cepet pukul 7. Alamakkk! padahal rencana jalan ke Wonosobo itu jam 6 pagi dari Tegal.

Jadi gini. Turis dan Dwi sekarang ini menetap di Bandung. Target sampai di Tegal katanya jam satu / dua malam, tapi ternyata datang musibah yang bikin mereka gak bisa jalan.

"Terus gimana mas mendakinya?" Tanya Dwi lewat telfon.

"Gak usah mikir mendaki dulu, yang penting jaga diri kalian baik-baik di Cirebon dan pulang ke Tegal dengan selamat." Saya jawab seadanya, karena saya juga gak bisa memaksakan mereka naik bis atau kereta atau odong-odong sekalian biar cepat ke Tegal.

"Terus yang lain gimana?" Tanya Dwi lagi.  

"Biar saya yang ngabarin."

Mungkin cuma Mala yang bisa ngertiin, karena Mala, Dwi dan Wiwi deket banget. Tapi Beti, mungkin karena dia saking penginnya ke Sindoro, bahkan dia rela dua malam begadang mengerjakan proposal biar cepat selesai demi ke Sindoro, jadinya terlihat seperti egois. Karena yang dia inginkan itu harus "jadi" meskipun ada masalah apapun termasuk masalah yang kita hadapi menjelang mendaki ke Sindoro ini.

Jam 8 gantian Turis yang ngasih kabar kalau dia baru mau jalan lagi. Dan tiga jam kemudian Turis bersama dengan istri akhirnya sampai di Tegal. Alkhamdulillah.

Iseng saya tanya. "Jadi mendaki ris?"

Dengan tegas Turis menjawab : "Jadi lah! Sudah semangat banget dari semalam masa gak jadi."

"Tapi Dwi?" tanya saya lagi.

"Tenang. Nanti dia saya suruh tidur di bus selama perjalanan ke Wonosobo."

Oke!

Kemudian saya kasih kabar ke Mala dan Beti kalau mendaki ke Sindoro kita tunda sampai jam 1 siang dan kumpul di RS. Kardinah, Tegal untuk menunggu bus arah Purwokerto kemudian dilanjut naik bus arah Wonosobo dari Terminal Purwokerto.

Senin, 29 Mei 2017

Edisi Sepedaan III : Wisata Pantai Gratis bagi warga Tegal.

Namanya Pantai Larangan.

Pantai Larangan merupakan salah satu (di Tegal) destinasi pantai yang masuknya gratis. Meskipun gratis, tapi pemandangannya gak kalah keren sama Pantai-Pantai berbayar lainnya yang ada di Tegal khususnya. Makanya pantai ini sering dikunjungi bahkan bisa lebih banyak pengunjungnya dari pada Pantai Purwahamba Indah dan Pantai Alam Indah. Yailah orang gratis... hihi. Tapi kenapa bisa di gratiskan begitu saja? Jawabannya sambil bercerita tentang sepedaan ke Pantai Larangan ini.


Sepedaan kali ini melanjutkan cerita sepedaan sebelumnya yaitu pemanasan sebelum mendaki ke Gunung Sindoro. Karena merasa masih kurang kalau cuma sepedaan ke Waduk Cacaban, maka saya tambah lagi sepedaannya dua hari setelah ke Cacaban.

Jarak dari rumah ke Larangan sejauh 10,2 km. Sedikit lebih jauh dari rute sepedaan sebelumnya.

Meski rutenya lebih jauh dari waduk cacaban, tapi jalannya cenderung lebih enak. Karena tidak ada tanjakan apalagi jalan rusak parah akibat truk-truk pembawa alat proyek tol, semuanya tidak ada, jalannya cuma lurusan pula. Makanya waktu tempuh dari rumah pake sepeda tidak lebih dari 25 menitan.

Begitu sampai, saya melihat warga setempat tidak ada yang merasa heran karena ada pesepeda yang datang ke larangan, mungkin karena disini sering dijadikan tujuan pesepeda-pesepeda lainnya. Kecuali saya kesini memakai kostum power ranger mungkin mereka bakal keheranan ada superhero.

Sebelum sampai ke lautnya, kita akan menjumpai banyaknya ikan-ikan hasil tangkapan nelayan yang dijemur.

Omong-omong soal gratis. Karena di Pantai larangan ini adalah Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Selain itu di Pantai Larangan juga dijadikan tempat pengelolaan budidaya ikan. Ini menjadi daya tarik tersendiri karena selain untuk pemasaran hasil perikanan, juga bisa menjadi wisata edukasi. Cuma sayangnya, yang namanya gratis itu pasti pengunjungnya suka seenaknya sendiri seperti coret-coret di badan perahu milik nelayan, juga buang sampah sembarangan. Ini kebiasaan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Perahu milik nelayan yang sedang istirahat
Kalau dilihat-lihat Pantai Larangan ini mulai menunjukan perkembangannya yang semakin kesini semakin membaik. Dulu dibelakang bibir pantai ini banyak semak-belukar dan pohon-pohon berduri. Namun sekarang makin bersih dan makin terawat. Sudah hampir seperti Pantai-pantai ternama lainnya yang ada di Tegal.
Disini dulunya semak-belukar, sekarang bersih.
Ada yang sedang bikin perahu.

Sementara bagi saya sepedaan sampai kesini cukup berbangga. Bahkan saya ingin menambah lagi rute sepedaannya biar lebih jauh lagi. Tapi nanti sepulang dari sindoro. Dan sekarang saya mulai menatap sindoro.

Baca juga :
Edisi Sepedaan I : Agrowosata Loco Antik
Edisi Sepedaan II : Waduk Cacaban
Wisata yang Hilang di Pemalang 

Minggu, 21 Mei 2017

Edisi Sepedaan II : Sampai juga di Waduk Cacaban



Sepedaan ke Waduk Cacaban itu membutuhkan mental yang kuat, fisik yang prima, dan perasaan yang nyaman. Tapi saya tidak memiliki ketiga itu. Karena untuk soal mental, saya orangnya cemen banget. Lalu soal fisik, "jangan di bahas". Sedangkan soal perasaan, hati sedang tidak baik karena habis liat pacar bikin status Facebook bukan buat saya. Modal saya sepedaan ke Waduk Cacaban hanya satu, Nekad. Ya... nekad. Demi harga diri saya supaya kuat nanti pas mau mendaki gunung. Karena ada pacar dan temen ceweknya yang katanya mau ikut, kalau loyo didepan para anak cewek, bisa-bisa saya suruh pensiun jadi cowok.

Emang seberat itu ki jalan menuju Waduk Cacaban?

Iyah. Gegara proyek tol Brebes-Tegal-Pemalang, sebagian jalan menuju Waduk Cacaban hancur akibat sering dilintasi para raja jalanan yaitu truk tronton. Hampir 24 jam mereka selalu lewat jalan ini.

Terus apa lagi ki?

Ya itu tadi. Selain sepedaan dijalur yang bisa bikin bokong kesemutan nyampe gak berasa kalau di pegang, kita juga kudu siap mental karena harus beriring-iringan dengan truk-truk yang super gede abis.

Kemudian rintangan selanjutnya adalah 3 jalan tanjakan yang harus bin wajib saya lalui dengan bersepeda. Alkhamdulillah tanjakan pertama berhasil saya lalui dengan cara berangan-angan sepulang dari sini badan jadi kurus, hasilnya dengan semangat saya mengayun pedal sampai ke atas.


Sedangkan tanjakan kedua dan ketiga itu setelah masuk loket Objek Wisata Waduk Cacaban.
 

Emang sudah jadi Objek Wisata ki?

Iya. Waduk Cacaban ini sudah lama menjadi Objek Wisata, bahkan menjadi salah satu unggulan wisata di kab. Tegal bersama Guci dan Pantai Purwohamba Indah.

Cukup bayar Rp. 2.500,- saya bisa masuk ke Waduk Cacaban.

Dan untuk jalan tanjakan yang kedua dan ketiga ini sebenernya satu tanjakan, saya sengaja pisahkan karena ada jalan datar setelah melewati tanjakan kedua, dan itu pun hanya 3 meter saja, setelahnya tanjakan ketiga yang saya sebut tanjakan paling durjana dari pada kedua tanjakan sebelumnya.



Tanjakan durjana ini adalah tanjakan menuju punggungan Waduk Cacaban. Dan kemiringannya juga hampir 45 derajat, jelas saya gak sanggup, meskipun sambil berangan-angan badan jadi kayak ade rai sekalipun.

Kemudian sepeda saya titipkan di salah satu warung makan yang ada disitu, dan saya jalan kaki untuk melanjutkan ke atas.

Suasana Waduk Cacaban sangat sepi, mungkin karena bukan hari libur, mungkin juga karena jalur menuju kesini sangat rusak bikin orang-orang ogah untuk liburan kesini. Foto waduk cacaban

Selama saya disini cuma ingin melihat tanda tangannya Presiden Indonesia pertama "Soekarno" saat meresmikan Waduk Cacaban ini. Tapi saya tidak menemukan dimana letaknya. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang dengan sedikit berbangga karena berhasil sepedaan sejauh sini dengan jarak 9,7 km dari rumah saya.
Papan informasi Waduk Cacaban
Catatan : Untuk menuju ke pintu masuk 2/loket 2 OW Waduk Cacaban tanjakannya lebih durjana dari tanjakan yang tadi saya lewati. Mungkin lain kali saya akan coba menaklukannya.



Baca juga :
Pertama kalinya sama Adik ke Waduk Cacaban
Pertama kalinya solo traveling
Pertama kali mendaki gunung

Jumat, 19 Mei 2017

Edisi Sepedaan I : Agrowisata Loco Antik



Sekitar 2 minggu lagi, saya dan keluarga sering keluyuran akan kembali mendaki Gunung setelah setahun yang lalu kita tidak mendaki bareng lagi, dan kali ini gunung yang akan kita naiki adalah Gunung Sindoro. Mungkin bagi pendaki profesional untuk mendaki gunung setinggi 3.136 mdpl ini tidak perlu berolahraga seberat mungkin, tapi bagi amatiran kayak saya, gendut pula, olahraga 2 minggu sebelum mendaki itu wajib. Malahan kalau perlu sebulan sebelum mendaki harus sudah sering olahraga. Selain untuk menurunkan berat badan yang hampir 100 kg, penting juga untuk melemaskan otot. Dan olahraga yang saya lakukan sebelum mendaki ini adalah sepedaan.

________________________________________________________



Suatu pagi, iseng jalan-jalan bareng kawan lama (sepeda federal jaman dulu) yang sering saya pake sewaktu SMP, dan sekarang saya pake lagi.

Arah sepedaan saya pagi ini ke Waduk Cacaban, dimana jarak dari rumah saya ke tujuan sekitar 9,7 km. Lumayan buat pemanasan menjelang mendaki Gunung Sindoro. Namun sebelum sampai di Waduk Cacaban, di tengah perjalanan tiba-tiba saya berkeinginan untuk berhenti dan masuk ke wisata anak-anak yang ada di kec. Pangkah (dekat Pabrik Gula Pangkah). Namanya Agrowisata Loco Antik.


Sesuai dengan namanya "Loco Antik" berarti didalamnya ada kereta antik yang usianya sudah teramat tua, dengan 3 gerbong antiknya siap membawa wisatawan jalan-jalan. Meskipun sudah tua, tapi tenang, keretanya masih kuat di isi sekitar 75 penumpang dewasa/100 penumpang anak-anak dengan rute melewati depan PG Pangkah, lalu melewati perkebunan tebu, kemudian melewati sawah-sawah yang ada di Kec. Pangkah ini.

Sekedar informasi, Agro Wisata Loco Antik ini dikelola langsung oleh PG. Pangkah yang merupakan perusahaan pengolahan tebu dan perkebunan hasil dari peninggalan Belanda.


Stasiun mini yang ada di Agrowisata ini

Selain terdapat kereta antik, didalam Agrowisata Loco Antik ini juga ada tamannya.


Bagi yang sekedar ingin foto-foto ditempat ini, ternyata disediakan juga tempat khusus foto-foto yang berlokasi sebelahan dengan stasiun kereta antik tadi, dan nama tempat untuk foto-foto itu adalah "Umah Andon Foto".

Didalamnya kita disuguhi dengan permainan cat tembok yang penuh warna dan juga lukisan-lukisan keren, tapi yang paling menggelitik adalah terdapat tulisan-tulisan kcak pake hati yang bisa menghibur para anak remaja yang lagi galau-galauan.

Bukan hanya kereta, taman, dan tempat khusus untuk foto saja yang ada disini, tapi ada kolam renangnya juga. Dengan panjang sekitar 50 m dan lebar sekitar 20 m ini bisa lah buat latihan anak sekolah biar bisa berenang.
Dengan hanya membayar 2.000 saja sebagai uang parkir kendaraan ditambah 3.000 untuk masuk ke Umah Andon Foto, cukup lah untuk merefresh otak para anak remaja yang habis ujian nasional disekolahan. Makanya di tempat ini lebih didominasi para anak remaja dari pada anak-anak kecil.

Selanjutnya saya akan kembali bersepeda ke tujuan awal. Waduk Cacaban.